MagetanKita.com – Usai maghrib, tidak ada lagi suara televisi yang terdengar. Warga Desa Sidomukti Plaosan kompak mematikan telivisi. Ini dilakukan untuk memberi kesempatan belajar bagi anak-anak dalam menghadapi ujian nasional.

“Ini sudah menjadi peraturan desa dan sudah diperlakukan semenjak tahun 2003,” jelas Kepala Desa Sidomukti Sutikno. Tidak hanya itu, Sutikno bahkan memantau langsung ke setiap rumah, untuk memastikan apakah televisi sudah dimatikan.

Upaya ini ternyata tidak sia-sia, karena terbukti mayoritas siswa bisa lulus dengan nilai memuaskan. “Saya sangat terbantu dengan program ini (matikan televisi, red), bisa banyak menguasai bahan pelajaran yang diujikan,” kata Endra salah satu pelajar asal Sidomukti.

Apa yang dilakuan warga Sidomukti ini sejalan dengan himbauan Kepala Dinas Pendidikan Magetan, Bambang Trianto. Bambang menghimbau agar para orang tua yang anaknya mengikuti ujian nasional, untuk mematikan televisi habis maghrib.

“Ini untuk memberi kesempatan yang lebih banyak lagi kepada siswa untuk belajar pelajaran yang akan diujikan,” kata Bambang minggu lalu. Dijelaskannya, waktu belajar siswa seringkali dihabiskan dengan hanya nonton televisi.

“Ini harus didukung sepenuhnya oleh para orang tua. Matikan televisi, biar anak-anaknya bisa belajar,” jelasnya. Minimal, kata Bambang, anak diberi kesempatan belajar sehingga jam delapan malam. “Pihak sekolah dan keluarga itu harus selaras, sama-sama mendukung pendidikan anak,” terangnya

Selain itu, Bambang juga menghimbau kepada orang tua, agar tidak memberi beban yang berat kepada anak. “Biarkan anak itu fokus pada ujian nasional,” pintanya. Apalagi, tahun ini, tidak ada ujian ulangan seperti tahun sebelumnya. “Kami mengajak para orang tua, untuk bersama-sama mensukseskan ujian nasional ini,” jelas dia.

Sumber :
http://magetankita.com